Sains Al-Quran dan Tafsir Saintifik; Pro dan Kontranya
Sains
Al-Quran dan Tafsir Saintifik; Pro dan Kontranya
Oleh: Muhammad Hariz Farezi Fadza
A.
Pendahuluan
Islam adalah agama samawi
yang tidak hanya berputar pada perkara-perkara ritual belaka, namun ia
merupakan agama universal yang Allah swt. turunkan pedoman dan ajarannya
melalui perantara Nabi Muhammad saw. kepada seluruh umat manusia.
﴿وَمَآ
أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ
ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ﴾
“Dan
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia
sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’: 28).
Salah satu
bentuk keuniversalan agama Islam ini ialah perhatian yang sangat tinggi
terhadap ilmu pengetahuan, terlebih kita mengetahui bahwa wahyu pertama yang
turun dari pedoman umat Islam (baca: Al-Quran) ialah perintah untuk membaca.
﴿ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ﴾
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS. Al-Alaq: 1).
Dan
hal menarik yang bisa diambil ketika menganalisis ayat ini melalui kaca mata
ilmu Balaghah; ialah kata اقْرَأْ yang merupakan bentuk kata kerja yang membutuhkan objek (baca: Fi’il
Muta’addi), namun dalam konteks ayat ini tidak disebutkan objeknya, sebagai
isyarat bahwa perintah membaca ini tidak dibatasi dengan bacaan dan ilmu
pengetahuan tertentu, akan tetapi maknanya lebih luas, yaitu belajarlah apapun
itu dengan media apapun.
Tentu
hal ini menunjukkan betapa tingginya perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan
serta hubungannya yang begitu erat dengan pedoman ajarannya. Tidak berlebihan
jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama ilmu. Dan ini menjadi salah satu
sisi menarik dalam syariat Islam akan terbukanya pintu dan ruang bagi sains dan
ilmu pengetahuan dalam rangka menemukan hakikat keagungan Allah swt. melalui
ciptaan-ciptaan-Nya.
Meskipun
kita mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam menempati
posisi yang mulia, namun ada hal yang menarik untuk dikaji dan dianalisis
bersama; yaitu apakah Al-Quran merupakan kitab suci ilmiyah yang menghimpun
informasi-informasi sains empirik, atau sebatas kitab hidayah yang tidak memaparkan
misteri ilmu pengetahuan di alam semesta ini.
Kemudian
pembahasan selanjutnya yang menarik untuk didiskusikan ialah seputar Tafsir
Saintifik; penjelasannya, perbedaan pendapat ulama dalam menyikapinya, serta
jalan tengah dalam mengkompromikan perbedaan pendapat tersebut.
B.
Al-Quran dan Sains
Al-Quran
–dalam ayat-ayatnya yang beragam- mendorong umat manusia untuk memperhatikan
alam semesta guna merenungi proses penciptaannya sehingga menuntun mereka untuk
meyakini keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.
﴿إِنَّ
فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ
وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِي تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ
ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٖ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا
وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ
ٱلۡمُسَخَّرِ بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴾
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,
pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang
bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu
dengan itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan
didalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 164).
﴿سَنُرِيهِمۡ
ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ
ٱلۡحَقُّۗ ﴾
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga
jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.” (QS. Fussilat: 53).
Dalam
buku “Islam dan Sains” karangan Dr. Ahmad Sarwat, Lc. MA. beliau memaparkan
tentang salah satu bentuk perhatian besar Al-Quran terhadap sains yaitu
perbandingan jumlah ayat yang diklaim sebagai ayat sains dan ayat hukum,
setelah diteliti ternyata lebih banyak ayat yang bicara tentang sains daripada
ayat yang bicara tentang hukum[1].
Di
dalam Al-Quran tak kurang terdapat 800 ayat kauniah dalam hitungan Muhammad Ahmad al-Ghamrawi. Sedangkan
menurut Prof. Zaghlul al-Najjar, ada 1000 ayat yang tegas dan ratusan lainnya
yang tidak langsung terkait dengan fenomena alam semesta. Sedangkan jumlah ayat
hukum menurut al-Ghazali, ar-Razi, Ibnu Qudamah, dan juga Muqatil bin Sulaiman
menyebutkan jumlahnya sekitar 500 ayat. Sedangkan yang mengatakan 200 ayat
adalah Abu at-Thayyib al-Qanuji; alasannya beliau mengecek langsung tiap ayat
dari 500 ayat yang disebutkan sebelumnya, namun yang benar-benar mengandung
hukum hanya sekitar 200 ayat. Dan ada juga yang tidak membatasi jumlah ayat
hukum semisal Ibnu Daqiq al-‘Id yang mengutip dari az-Zarkasyi[2].
Di
antara ayat-ayat yang dianggap sejalan dengan sains, yaitu jasad Fir’aun yang
masih utuh.
﴿فَٱلۡيَوۡمَ
نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ
ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ﴾
“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (QS. Yunus: 92).
Pertemuan
dua lautan yang terjadi di Selat Gibraltar, tepatnya di antara Spanyol dan
Maroko. Menurut para ilmuwan, fenomena tersebut terjadi karena air laut dari
Samudera Atlantik dan dari laut Mediterania memiliki karakteristik yang
berbeda, dilihat dari suhu air, kadar garam, dan kerapatannya. Al-Quran telah
menjelaskannya 14 abad silam.
﴿مَرَجَ
ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ ١٩
بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٞ لَّا يَبۡغِيَانِ ٢٠﴾
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian)
keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh
masing-masing.” (QS. Ar-Rahman:
19-20).
Di
sisi lain, Syekh Manna’ al-Qathan dalam kitabnya “Mabahits fi Ulum Al-Quran”
memaparkan bahwa sesungguhnya hakikat Al-Quran itu adalah hakikat yang final,
pasti dan mutlak. Sedang apa yang dicapai penelitian manusia, betapapun canggih
alat-alat yang dipergunakannya, adalah hakikat yang tidak final dan tidak
pasti. Sebab hakikat-hakikat tersebut terikat dengan aturan-aturan
esksperimentasi, kondisi yang melingkupi, serta komponen-komponen pendukungnya.
Adalah merupakan kesalahan metodologis –berdasarkan metodologi ilmiah manusia
itu sendiri-, menghubungkan hakikat-hakikat final Al-Quran dengan
hakikat-hakikat yang tidak final, yaitu segala apa yang dicapai ilmu
pengetahuan manusia[3].
Lanjut
beliau memparkan bahwa semua uji coba untuk menghubungkan isyarat-isyarat umum
Al-Quran dengan teori-teori sains yang berkembang dan berubah –atau bahkan hakikat
ilmiah itu sendiri- tidaklah bisa dikatangan sesuai secara mutlak; sebab
kelemahan metodologi dasar dalam menghubungkannya, juga mengakibatkan tiga
makna yang tidak layak untuk disematkan ke Al-Quran. Diantaranya:
1.
Kesalahan berpikir yang menyebabkan sebagian orang memandang ilmu
pengetahuan sebagai batu uji yang diikuti, sedangkan Al-Quran harus mengikuti.
Oleh karena itu, mereka berusaha menguatkan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan,
atau membuktikan kebenarannya berdasarkan ilmu pengetahuan, padahal Al-Quran
adalah kitab suci yang sempurna isinya dan final hakikat-hakikatnya. Sedangkan
ilmu pengetahuan yang sekarang senantiasa membatalkan apa yang telah ditetapkan
kemarin. Segala apa yang dicapai tidak mutlak dan tidak final.
2.
Kesalahpahaman dalam memahami watak dan fungsi Al-Quran; yaitu sebagai
hakikat final yang mutlak, membina kehidupan manusia dengan cara yang sesuai
kadar dan tabiat manusia beserta alam semesta, sehingga manusia tidak akan
berbenturan dengan alam sekelilingnya.
3.
Pentakwilan terus-menerus dengan pemaksaan dan pemerkosaan teks-teks
Al-Quran agar dapat dibawa dan diselaraskan dengan teori-teori yang tidak
tetap, padahal setiap hari selalu muncul teori baru[4].
Di
sisi lain, jika kita melihat pendapat ulama terdahulu seperti al-Ghazali
misalnya yang menerangkan bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu
dan yang kemudian, yang telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber dari
Al-Quran. Berbeda dengan as-Syathibi yang tidak sependapat dengan al-Ghazali.
Dalam kitabnya “Al-Muwafaqat”, beliau berpendapat bahwa para sahabat
tentu lebih mengetahui Al-Quran dan apa-apa yang tercantum didalamnya, tapi
tidak seorangpun di antara mereka yang menyatakan bahwa Al-Quran mencakup
seluruh cabang ilmu pengetahuan[5].
Mengambil
jalan tengah untuk perbedaan pendapat di atas, mengutip kembali perkataan Prof.
M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al-Quran”, membahas hubungan antara
Al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat, misalnya adakah teori
relativitas, bahasan tentang angkasa luar, atau ilmu computer tercantum dalam
Al-Quran; tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya
menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat
Al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?
Dengan kata lain, meletakkannya pada sisi “social psychology” (psikologi
sosial) bukan pada sisi “history of scientific progress” (sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan). Anggaplah bahwa setiap ayat dari 6.236 ayat
yang tercantum dalam Al-Quran mengandung suatu teori ilmiah, kemudian apa
hasilnya? Apakah keuntungan yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori
tersebut bila masyarakat tidak diberi “hidayah” atau petunjuk guna kemajuan
ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang dapat menghambatnya?[6]
Dengan
demikian, kita mengetahui tujuan utama Al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi
manusia untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat, dalam hubungannya
dengan ilmu pengetahuan adalah mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan
akal pikirannya serta menambah ilmu pengetahuannya sebisa mungkin.
C.
Tafsir Saintifik; Pro dan Kontranya diantara Ulama
Terdahulu
Tafsir
Saintifik merupakan salah satu istilah dalam metode tafsir Al-Quran yang cukup
populer dewasa ini. Imam ad-Dzahabi dalam “at-Tafsir wa al-Mufassirun”
menjelaskan bahwa Tafsir Saintifik itu adalah tafsir yang mengungkapkan
istilah-istilah ilmiah dalam ibarat Al-Quran, dan berusaha mengekstrak
ilmu-ilmu modern dan filsafat dalam ibarat-ibaratnya[7].
Corak
penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal. Benihnya bermula pada masa Dinasti Abbasiyah,
khususnya pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, akibat penerjemahan
kitab-kitab ilmiah. Namun, tokoh yang paling gigih mendukung ide tersebut
–sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya- adalah al-Ghazali yang secara panjang
lebar dalam kitabnya; Ihya Ulum ad-Din dan Jawahir Al-Quran
mengemukakan alasan-alasan untuk membuktikan pendapatnya itu. Al-Ghazali
mengatakan bahwa: “Segala macam ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu (masih
ada atau telah punah), maupun yang kemudian; baik yang telah diketahui maupun
belum, semua bersumber dari Al-Quran Al-Karim.”[8]
Di
sisi lain, as-Syathibi merupakan tokoh paling gigih menentang sikap di atas
secara berlebih-lebihan pula, sehingga ia mengatakan bahwa “Al-Quran tidak
diturunkan untuk maksud tersebut,” dan bahwa “Seseorang dalam rangka memahami
Al-Quran, harus membatasi diri menggunakan ilmu-ilmu bantu pada ilmu-ilmu yang
dikenal oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran. Siapa yang berusaha
memahaminya dengan menggunakan ilmu-ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesat
atau keliru dan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak
pernah dimaksudkannya.”[9]
D.
Pro dan Kontra Tafsir Saintifik diantara Ulama
Kontemporer
Adapun
dalam kacamata ulama-ulama kontemporer, diantaranya yang mengatakan bahwa
Tafsir Saintifik itu boleh dipakai dan diterima ialah: Muhammad Abduh, Rasyid
Ridha, Syekh Muhammad Abu Zahrah, Syekh Thantawi Jauhari, Musthofa Shodiq
ar-Rafi’i dan sebagainya.
Argumen
yang menguatkan pendapat mereka ialah; bahwasanya Tafsir Saintifik itu menambah
keagungan Al-Quran serta menguatkan bukti-bukti kebenarannya sedikit demi
sedikit. Meskipun demikiaan, mereka –yang membolehkan model tafsir ini-
meletakkan syarat-syarat tertentu:
1.
Harus terikat dengan kaidah-kaidah bahasa Arab beserta
kosakata-kosakatanya.
2.
Tidak berlebihan dalam mentakwilkan ayat-ayat Al-Quran dengan penemuan
ilmiah.
3.
Tidak menjadikan hakikat Al-Quran sebagai bahan teliti, akan tetapi
menjadikannya sebagai acuan dihadapan eksperimen ilmiah yang ada; sehingga apa
yang sesuai dengan kandungan Al-Quran diterima, yang tidak sesuai ditolak.
4.
Tidak menafsirkan Al-Quran kecuali atas dasar keyakinan yang kuat, bukan
atas dasar hipotesis maupun teori-teori yang masih memiliki kemungkinan
berubah.
Sedangkan yang menolak adanya Tafsir Saintifik ini diantaranya: Syekh Mahmud Syaltut,
Sayyid Qutb, dan Dr. Muhammad Husein ad-Dzahabi. Argumen penolakan mereka
ialah:
1.
Al-Quran merupakan kitab hidayah, bukan ensiklopedia pengetahuan. Dan
bukan ranahnya menjelaskan secara rinci hakikat-hakikat ilmiah seputar alam
semesta. Namun, jika ditemukan ada yang bersesuaian dengan ayat Al-Quran secara
garis besar dan isyarat yang jelas, maka tidak mengapa. Adapun berlebihan dalam
menafsirkannya sesuai hakikat ilmiah –yang senantiasa tidak mutlak- bukanlah
merupakan corak utama Al-Quran.
2.
Al-Quran tidaklah diturunkan supaya menjadi kitab yang membicarakan
teori-teori ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan ilmiah lainnya.
3.
Tafsir jenis ini membawa para penafsirnya berlebihan dalam mentakwilkan
ayat-ayat Al-Quran sehingga menafikan esensi kemukjizatannya.
4.
Tafsir Saintifik ini menjadikan Al-Quran berada dalam timbangan ilmu
pengetahuan yang tidak bersifat mutlak dan final.[10]
E.
Contoh Penafsiran Sains Ayat-Ayat Al-Quran
1).
Firman Allah swt. dalam surah Al-Qiyamah:
﴿أَيَحۡسَبُ
ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ٣ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن
نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ٤﴾
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun
(kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 3-4).
•Makna
Tafsiri: Tidaklah benar apa yang dianggap orang-orang musyrik bahwa manusia
itu tidak dibangkitkan setelah matinya untuk menerima hisab dan balasan, justru
Kami mampu mengumpulkan dan mengembalikannya hidup kembali dengan kuasa yang
sempurna; yaitu mengembalikan seluruh tulang-belulang dan jasadnya, menjadikan
jari-jemarinya sebagaimana adanya ketika ia hidup dulu.
•Makna Sains: Ilmu pengetahuan modern menemukan adanya identitas manusia melalui sidik jari yang berbeda-beda dari satu manusia dengan yang lain. Bahkan dengan adanya penemuan ini, memudahkan indentifikasi para pencuri dan pelaku kriminal jika mereka meninggalkan jejak jari tangan mereka di tempat kejadian mereka melakukan tindak kriminal. Teknik seperti ini disebut dengan “Pelacak Kepribadian”. Diantara bentuk i’jaz penciptaan manusia terdapat pada sidik jarinya yang ternyata jauh lebih menentukan identitasnya dibandingkan wajah dan bentuk tubuhnya.
2).
Firman Allah swt. dalam surah Al-An’am:
﴿فَمَن
يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِۖ وَمَن يُرِدۡ
أَن يُضِلَّهُۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجٗا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي
ٱلسَّمَآءِۚ ﴾
“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat
hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan
barang siapa dikehendaki-Nya sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak,
seakan-akan dia (sedang) naik ke langit.” (QS. Al-An’am: 125).
• Makna
Tafsiri: Siapa yang Allah tetapkan baginya hidayah, maka akan lampang
hatinya untuk menerima cahaya Islam. Dan siapa yang Allah tetapkan baginya
kesesatan, maka hatinya menjadi sempit dan sesak, sebagaimana sesaknya
seseorang ketika naik ke tempat yang amat tinggi seperti langit, maka nafasnya
tidak mampu bertahan pada yang demikian.
• Makna Sains: Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa terbang ke langit (angkasa) itu dapat benar-benar menyesakkan dada sebab kurangnya oksigen. Oleh karena itu, seorang astronot yang terbang mengitari langit mengenakan tabung oksigen demi menstabilkan sistem pernafasannya.[11]
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang
ditafsirkan dengan metode sains seperti di atas. Dua contoh ayat di atas
sekiranya cukup menjadi sampel, agar tulisan ini tidak terlampau panjang.
F.
Jalan Tengah Menyikapi Hubungan Al-Quran dan Sains
Mengutip perkataan Prof. M. Quraish Shihab dalam
mengambil jalan tengah menyikapi perbedaan pendapat tentang hubungan Al-Quran
dan Sains sebagai berikut:
1. Al-Quran –fungsi utamanya- adalah kitab hidayah yang memberikan petunjuk
kepada manusia terkait persoalan akidah, syariat dan akhlak demi kebahagiaan
dunia dan akhirat.
2. Tiada pertentangan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
3. Memahami hubungan Al-Quran dengan
ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah teori-teori ilmiah atau
penemuan-penemuan baru tersimpul didalamnya, tetapi dengan melihat adakah
Al-Quran atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorong
lebih maju.
4. Membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah berdasarkan Al-Quran
bertentangan dengan tujuan pokok atau sifat Al-Quran –yang bersifat absolut dan
final- dan bertentangan pula dengan ciri khas ilmu pengetahuan –yang bersifat
relatif dan tidak final-.
5. Di antara sebab meluasnya penafsiran ilmiah (pembenaran teori-teori ilmiah
berdasarkan Al-Quran) adalah akibat perasaan rendah diri masyarakat Islam dan
akibat pertentangan antara golongan gereja (agama Kristen) dan ilmuwan yang
dikhawatirkan terjadi pula dalam lingkungan Islam, sehingga cendekiawan Islam
berusaha menampakkan hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
6. Memahami ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan penemuan-penemuan baru adalah
ijtihad yang baik, selama paham tersebut tidak dipercayai sebagai Aqidah
Qur’aniyyah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip atau ketentuan bahasa.[12]
G.
Penutup
Setelah memahami bagaimana kolerasi Al-Quran dan
Sains, begitu juga metode Tafsir Saintifik yang berkembang dewasa ini beserta
pro kontranya dikalangan ulama terdahulu maupun kontemporer, paling tidak bisa
kita simpulkan bahwa Al-Quran –sebagai kitab hidayah- dalam kaitannya dengan
ilmu pengetahuan modern, selama masih tidak bertentangan dengan kaidah
ilmu-ilmu dasar yang diperlukan sejak diturunkannya (seperti: ilmu bahasa arab,
asbab an-nuzul, dan sebagainya) dan isyarat-isyarat yang diterangkan Al-Quran
di sebagian ayatnya masih bisa mencakup kandungannya dengan penemuan ilmiah
yang ada, maka itu boleh-boleh saja, akan tetapi ia sama halnya dengan hasil
ijtihad yang tidak mutlak kebenarannya.
Demikian tulisan sederhana ini saya sajikan, tentu tidak
ada gading yang tak retak, begitu pula tulisan ini yang tidak luput dari
kesalahan dan kekeliruan karena pengetahuan penulis yang terbatas dan tak
buahnya hanyalah setetes dari lautan ilmu yang begitu luas. Mereka yang
berkenan membaca tulisan ini dituntut oleh amanah ilmiah untuk memberikan tegur
sapa, kritik, dan penyempurnaan.
Kairo, 13 November 2023 M / 29 Rabiul Akhir 1445 H
M. Hariz Farezi Fadza
[1] Dr. Ahmad Sarwat, Lc. MA., Islam dan
Sains, (Jakarta: Rumah Fiqih Publishing, 2020), cet. I, hal. 39.
[2] Ibid, hal. 47-48.
[3] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi Ulum
Al-Quran, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1421 H/2000 M), cet. 3, hal. 282.
[4] Ibid, hal. 283.
[5] M. Quraish Shihab, Membumikan
Al-Quran, (Bandung: Penerbit Mizan, 1434 H/2013 M), Edisi Baru, cet. 1,
hal. 58-59.
[6] Ibid, hal. 59.
[7][7] Muhammad Husein ad-Dzahabi, at-Tafsir
wa al-Mufassirun, (Kairo: Dar al-Hadits, 1433 H/2012 M), hal. 349.
[8] M. Quraish Shihab, Membumikan
Al-Quran, hal. 154.
[9] Ibid, hal. 156.
[10] Dr. Muhammad Fadhl, “Mulakhos Maddah
at-Tafsir al-Maudhui li al-Firqah ar-Rab’iah”, (Tahun Ajaran: 2022-2023 M),
hal. 98-99.
[11] Ibid, hal. 99-100.
[12] M. Quraish Shihab, Membumikan
Al-Quran, hal. 88-89.





%20(12).jpeg)
%20(2).jpeg)
%20(22).jpeg)




Comments
Post a Comment