Fiqh Aulawiyyat Thalib al-'Ilmi

《Fiqh Aulawiyyat Thalib al-'Ilmi》

Oleh: M. Hariz Farezi Fadza


    Di lautan ilmu yang luas, dalam waktu yang terbatas, seorang thalib itu harus cerdas mengatur prioritas.


    Syekh Dr. Salim Abu Ashi hampir di setiap dars beliau menasehati murid-muridnya -kurang lebih-:

أنت تأتي هنا في الأزهر عشان بتتأسس العلم، مش انت جائ هنا لتستغرق وقتك في الوعظ (دروس وعظية) والمدح ومجالس الرواية ومش عارف ايه ووو إلى آخره وانت مش عندك أساس في الفهم. انت كدا تضيع الوقت فيما هو مهم عن الأهم

    "Kalian datang jauh-jauh belajar ke Al-Azhar ini untuk ta'sis ilmu (membangun pondasi ilmu), bukan malah terlalu berlebihan ikut dars-dars yang bersifat وَعْظ, madh-madh, majelis riwayat, dll. sedangkan kalian belum punya asas untuk paham yang demikian. Akhirnya kalian banyak menghabiskan waktu pada hal-hal yang diluar prioritas utama."

    Karena guru-guru kita di Al-Azhar seringkali mengarahkan murid-muridnya untuk memulai dengan ilmu-ilmu alat (nahwu, shorof, balaghah, mantik, ushul, kalam, dst.) sampai mutqin. Dengan bekal itu, minimal bisa baca kitab-kitab lain dari berbagai fan dengan mudah.

    Mengapa begitu, karena kitab-kitab turats kalau kita bedah dan analisis, itu bagaikan hutan rimba yang penuh dengan teka-teki. Mustholah-mustholah penting dari berbagai fan harus kita pahami sebagai peta dan GPS-nya supaya tahu jalan dan gak tersesat.


    Maka tak heran kita melihat di satu kitab tertentu, bahkan satu paragraf, terkumpul disana berbagai macam jenis ilmu, mustholah dari bermacam fan ilmu terpampang disana. Baik itu Nahwu, Shorof, Balaghah, Mantik, Ushul, Kalam, dsb. Kadang ada istilah jins, fashl, 'am, khosh, jauhar, arodh, tanaqudh, majaz, haqiqah, wadha' syakhsi, wadha' nau'i, dst. Orang yang sekedar baca tanpa tahu atau pernah belajar ilmu-ilmu alat tersebut sebelumnya pasti akan diambang kebingungan dan buta dalam memahaminya.

    Ibarat seseorang yang berenang di tengah lautan dengan alat yang lengkap (tabung oksigen, kaca mata renang, kostum renang, dsb.) akan mudah menyelami dalamnya samudera dan menemukan mutiara-mutiaranya. Yang kurang dan bahkan tidak memilikinya pasti akan mengalami kesulitan atau bahkan mati.

    Dari itu, persiapkanlah ilmu-ilmu alat tersebut dengan baik, sesuai prioritas dan tingkatan kesulitannya. Tak hanya itu, belajar juga cara berenang atau praktik dalam menerapkan ilmu-ilmu tersebut melalui banyak membaca dengan banyak istinbat dan istikhraj teori-teori yang pernah dipelajari dari ilmu-ilmu alat tersebut. Karena teori tanpa praktik tak berguna, sebagaimana alat renang lengkap tapi tak tahu cara berenang.


    Sekali lagi, di lautan ilmu yang luas, dalam waktu yang terbatas, seorang thalib itu harus cerdas mengatur prioritas.



Kairo, 20 Desember 2023
MHFF

Comments

Popular Posts