Penuntut Ilmu; antara Maqom Tajrid & Asbab
《Penuntut Ilmu; antara maqom Tajrid & Asbab》
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Hikmah ke-1 Ibnu Athoillah as-Sakandari dalam al-Hikam-nya:
إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العالية
"Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan keinginan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menetapkanmu pada asbab (usaha; yang telah Allah bekali manusia dengan sarana penghidupan) termasuk dalam bisikan syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari tekad spiritual yang tinggi."
Dalam konteks seorang penuntut ilmu, selama ia masih diberi kecukupan hidup, diberi kesempatan belajar dalam waktu tertentu, belum memiliki tanggung jawab yang menuntut dia bekerja, menghidupkan dan menafkahkan, maka sejatinya Allah masih tempatkan dia di maqom tajrid, belum waktunya ke maqom asbab.
Karena tidak semua orang memiliki kesempatan belajar, memiliki kecukupan untuk hidup, dan waktu yang berharga untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Apalagi bisa sekolah/kuliah di luar negeri, yang didambakan banyak orang, mereka yang termasuk orang-orang pilihan harusnya sadar akan maqom (kedudukan) yang ditetapkan Allah untuknya, dalam pepatah arab dikatakan:
مقامك حيث أقامك
"Kedudukanmu sebagaimana yang ditempatkan Allah bagimu."
Ya, memang di satu kala tak masalah memikirkan dan merencanakan apa yang menjadi kebutuhan di masa depan, tetapi bukan untuk dicemaskan dan dikhawatirkan (baca: overthinking), karena kita hanya hidup di masa sekarang, yang lalu sudahlah berlalu, yang akan datang tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita saat ini (baca: ابْنُ وَقْتِهِ Anak dari waktunya).
TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA. pernah berkata:
"Pada saat mahasiswa, saya tidak pernah punya cita-cita untuk terjun dalam politik. Tetapi saya memang diajarkan dan dididik oleh orang tua dan guru-guru saya untuk selalu fokus pada apa yang sekarang sedang engkau berada di tengahnya. Kalau dalam istilah pesantrennya ابْنُ وَقْتِهِ (Anak dari waktunya). Artinya, tanggung jawab yang sekarang sedang dihadapi itulah yang ditunaikan sebaik-baiknya.
Ketika saya sedang belajar, saya berusaha menjadi mahasiswa yang serius. Belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh. Jadi kita mengapresiasi keberadaan kita sekarang ini. Dimanapun kita berada, apapun yang sedang kita berada didalamnya, you have to appreciated. Dengan cara apa? Dengan cara memanfaatkan keberadaan kita ini dengan sebaik-baiknya."
Saya tutup dengan mengutip kembali hikmah lain dari Ibnu Athoillah:
اجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة
“Kerja kerasmu untuk sesuatu yang sudah dijamin dan kelalaianmu pada kewajibanmu adalah tanda butanya mata hatimu.”
Kairo, 24 Oktober 2023 M / 9 Rabi'ul Akhir 1445 H
M. Hariz Farezi Fadza




Comments
Post a Comment