Turats (Peninggalan) Almarhum TGH. Basirun

Turats (Peninggalan) Almarhum TGH. Basirun

Oleh: M. Hariz Farezi Fadza


    Sebelum mengenal beliau lebih dalam, saya pribadi hanya mengenal beliau sebagai sosok paman (kakak iparnya bapak) setiap kali pulang kampung ke Gersik, Lombok Barat. Hidup beliau sangat sederhana, hingga seakan-akan tak tampak dalam pandangan saya yang kala itu masih belum tahu bahwa beliau merupakan seorang alim besar yang sering mengisi kajian kitab di sekitar kampung saat itu.

    Hari berganti, musim berubah. Tahun 2012 tepat ketika saya baru mau masuk tsanawiyah, beliau di panggil Allah swt. setelah sekian lama tak sadarkan diri ketika mengisi pengajian subuh di suatu masjid. Setelah beberapa tahun berlalu, ketika saya mulai belajar ngaji kitab, mulailah saya diberi tahu dan diceritakan perihal sosok beliau.

    Ternyata sosok TGH. Basirun termasuk orang yang gigih mengaji sejak usia muda. Sepanjang harinya dihabiskan untuk menuntut ilmu agama bertahun-tahun lamanya, saat itu beliau mondok di Islahuddin, Kediri, Lombok Barat.

    Hingga datang suatu masa, beliau mendapat panggilan dari Allah swt. untuk menunaikan ibadah haji. Setelah melalui rangkaian proses ibadah haji dengan sempurna. Beliau tidak mau balik ke Indonesia ketika diminta untuk balik. Tetapi memilih berdiam diri di Mekkah untuk mengaji ilmu agama bersama para masyayikh yang ada disana.

    8 tahun lamanya beliau habiskan waktu menuntut ilmu di tanah suci hingga akhirnya beliau kembali ke Indonesia membawa ilmu dan kitab-kitabnya yang konon beratnya kurang lebih 100 kg. Sebelum pulang, beliau sempat mengadu kepada salah seorang gurunya: "Saya sekian tahun ngaji di Indonesia, dan 8 tahun mengaji di tanah suci ini, tetapi tak kunjung bisa baca kitab-kitab ini." Akhirnya, beliau meminta doa dan amalan yang sekiranya bisa beliau amalkan agar bisa membaca dan mengamalkan kitab-kitab tersebut. Maka diberilah dan beliau pulang ke Indonesia.

    Setelah beberapa lama tiba di Indonesia, beliau perlahan-perlahan mencoba membaca kitab-kitab yang dibawa pulang saat itu; qadarullah seketika itu beliau bisa membaca dengan lancar kitab-kitab tersebut. Dan tak jarang beliau seakan-akan mendengar suara gurunya ketika mengaji dulu di tanah suci. Walhamdulillah, beliau pun mulai dipercaya masyarakat kampung untuk mengisi berbagai kajian Islam mulai saat itu.

    Dari cerita tersebut, sempat tersebit dalam benak saya. Sekian tahun lamanya mengaji ditambah 8 tahun di tanah suci itu hitungan yang cukup lama, dan pastinya -dalam benak saya- beliau pasti ingat dan paham pelajaran-pelajaran yang diperoleh. Tapi, kita tidak tahu ternyata futuh -dibukanya pemahaman- sebab barakah guru itu sangat mulia dan mampu membuka tabir-tabir yang tak tersingkap sebelumnya.

    Pada kesempatan ini, saya di beri kesempatan oleh bibi (istri dari almarhum) untuk melihat-lihat dan memakai kitab-kitab koleksi beliau yang memenuhi 1 lemari penuh di rumah kediaman beliau di Gersik. Karena memang katanya kitab-kitab ini hanya dipajang dan hanya berguna khususnya bagi alfaqir yang di tahu belajar di Mesir, dan dipercaya bisa memahami kitab-kitab tersebut kapan saja dibutuhkan. "Piran-piran, mun side mele, dateng bae jok bale, kadu kitab-kitab ne." -kapan-kapan kalau butuh kitab-kitab disini, datang aja ke rumah- kata bibi.

    Rahimahullahu ta'ala, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada almarhum TGH. Basirun, dan menjadikan amal soleh dan ilmu-ilmunya bermanfaat dan mengangkat derajat beliau disisi-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.


Gersik, Lombok Barat, 27 Agustus 2023

MHFF

Comments

Popular Posts