Pergi Balok Pulang Balok
Pergi Balok Pulang Balok
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Jangan sampai jauh-jauh belajar ke Mesir atau luar negeri lainnya pulang-pulang tidak ada perubahan. Tidak ada perkembangan baik dari segi ilmu, skill, karya dan lain-lain. Setelah bertahun-tahun di Mesir, ternyata masih berupa balok kayu juga. Tidak berubah jadi meja, kursi, lemari, atau furniture lainnya. Jika seperti itu, pertanyaan besarnya adalah "Selama ini disana ngapain aja?".
Tentu setiap yang pernah pulang ke Indonesia akan merasakan bagaimana dinamika dan tantangan hidup bermasyarakat yang sebenarnya. Tuntunan beragama yang menjadi amanah kepercayaan keluarga dan masyarakat yang mau tidak mau harus bisa ditunaikan dan menjadi representasi instansi tempat kita belajar -dalam konteks ini Al-Azhar-.
Maka bersyukurlah mereka yang dahulunya ketika di Mesir memanfaatkan waktu untuk bersungguh-sungguh belajar, ngaji, talaqqi, menghafal Alquran, hadits, matan dan berbagai macam pengembangan-pengembangan lainnya.
Dan disini saya ingin sampaikan -tahadduts bin ni'mah- apa yang telah saya peroleh di awal-awal masa belajar ketika berada di asrama "Kawakibul Fushoha" dulu -meskipun masih banyak yang harus dipelajari dan dikembangkan lagi-. Di gembleng habis-habisan praktik bahasa arab, target hafalan yang cukup besar dan harus mutqin, ngaji, muzakarah, dauroh, skill baca kitab, mengurus asrama, anggota, mengadakan acara-acara dan berbagai pengalaman ilmiah lainnya yang ternyata buah manfaatnya sangat terasa ketika terjun di masyarakat.
Kuantitas hafalan yang besar disertai peningkatan kualitasnya -mutqin- menjadi modal utama dalam setiap dars yang ada saat itu. Kemampuan istidlal ayat, hadits maupun matan ketika menemukan suatu permasalahan ketika dars memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam proses pengembangan ilmu yang diperoleh. Sehingga hafalan dan pemahaman berjalan bergandengan, walhamdulillah.
Jadi, di asrama dulu tak hanya diajarkan ilmu. Tapi juga membentuk jaringan keilmuan dalam diri. Dan manhaj seperti ini yang menurut pengalaman pribadi merupakan bekal yang sangat penting dimiliki. Ketika menganalisis suatu permasalahan tahu mau merujuk kemana -melalui hafalan dan wawasan-, ketika diminta ngisi secara spontan tahu juga muqtadhol hal -situasi dan kondisi- sehingga bisa menyesuaikan bahan kajian yang sesuai untuk itu. Bagai orang yang menyimpan banyak bahan makanan dikulkasnya -hafalan-, tinggal diambil, diolah, dan disuguhkan. Bayangkan kalau gak ada isinya sama sekali, kan bingung.
Begitu juga kemampuan bersosialisasi, kualifikasi bermasyarakat yang diperoleh dari bekal organisasi menjadi modal yang tak kalah penting dalam membentuk pribadi yang mampu hidup dan bermanfaat dalam lingkungan masyarakat.
Pesan saya, mumpung yang masih di Mesir, bekali diri baik-baik. Buat perkembangan pesat dalam dirimu sebelum pulang nanti. Jangan pergi balok pulang balok.






Comments
Post a Comment