Akselerasi Malakah Keilmuan

 Akselerasi Malakah Keilmuan

Oleh: M. Hariz Farezi Fadza


قليل استثمرته خير من كثير عطّلته

    "Sedikit yang kamu kembangkan lebih baik daripada banyak yang kamu sia-siakan."

    Dalam hal mengaji misalnya. Banyak yang merasa minder ketika masih belajar di tahap pemula (baca: mubtadi') dengan kitab-kitab dasar seperti: al-Ājurrumiyyah, Matan Bina, Waraqat dan sebagainya. Kemudian iri melihat teman-temannya atau orang lain yang sudah banyak mengaji hingga kitab-kitab kelas tinggi.

    Tenang, tidak usah khawatir. Kamu tetap bisa mengembangkan ilmumu dengan baik walau dengan berbekal kitab-kitab dasar tersebut yang bahkan bisa jadi melebihi skill mereka yang sudah mengaji banyak kitab akan tetapi tidak mampu menerapkannya dan menghidupkannya karena jarang di ulang dan di latih dalam praktik membaca kitab atau mengaji.

    Itulah "Skill Praktik dan Istidlal"; yaitu melatih diri menerapkan apa yang sudah dipelajari dari suatu kitab ketika membaca kitab maupun mengaji dengan masyayikh. Latihan seperti ini jarang diindahkan oleh sebagian pelajar dewasa ini, karena hasrat mereka inginnya belajar terus, ngaji, khatam kitab ini kemudian berpindah ke kitab lain, dan seterusnya tanpa menelaah kembali dan mencoba menguji diri sejauh mana memahami kitab tersebut dalam konteks penerapannya (tathbiq) dalam membaca kitab.

Diantara langkah mengembangkan skill ini:

1. Menghafal kitab dasar tersebut sampai mutqin (jika berbentuk matan; baik nasr maupun nazhom).

2. Latihan istidlal (mengambil dalil) ketika membaca kitab apapun. Tepatnya ketika menemui ibarah yang berkaitan dengan salah satu bab pembahasan di kitab tersebut. Misalnya: kita menguji diri kita ketika berjumpa suatu lafaz, "Ini i'rabnya apa?", "Rofa', Nashab, atau Jar?", "Oh, nashab.. terus nashab jenis apa?", "Ada berapa manshubat?", "Ada berapa amil nashab?", "Marji' dhomirnya kemana?", "Kalimat ini athafnya kemana?", dan seterusnya.

3. Jika kitab yang dihafal berbentuk nazhom, coba hadirkan dalilnya ketika menemukan suatu permasalahan yang ada jawabannya di bait nazhom tersebut. Contohnya: ketika menemukan suatu fi'il yang wazannya فَعَلَ - يَفْعَلُ ain fi'ilnya berharakat fathah di madhi dan mudhori'nya seperti فَتَحَ dan سَأَلَ, Coba datangkan dalilnya dari Nadzhom Maqshud misalnya:

ولامٌ أو عينٌ بما قد فُتِحَا # حلقي سوى ذا بالشذوذ اتّضحَا

Oh, berarti setiap fi'il yang ain atau lam fi'ilnya itu huruf halqi, maka qiyas wazannya فَعَلَ - يَفْعَلُ fathah-fathah (kecuali beberapa lafaz yang syadz). Kemudian kita uji lagi, "Huruf halqi itu apa saja sih?". Jawab pakai Tuhfatul Athfal:

همزٌ فهاءٌ ثم عينٌ حاءُ # مهملتان ثم غينٌ خاءُ

4. Dan kalau mau tantangan yang lebih besar. Bagi yang sudah hafal Al-Quran (atau sebagiannya). Coba latihan istidlal materi-materi berbagai macam fan ilmu yang sudah pernah kita pelajari. Misalnya:

• Mendatangkan contoh fi'il mudhori' yang manshub >> {لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون}

• Ketika baca ayat {هل من خالق غير الله}, ternyata itu bukan istifham haqiqi, tapi istifham inkari kalau dalam Balaghah.

• Kalau kita tadabburi ayat {لو كان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا}, ternyata disana kita bisa istinbath banyak hal dari berbagai fan ilmu. Huruf لو itu disebut حرف الامتناع للامتناع yaitu huruf yang mencegah adanya jawab sebab tercegahnya syarat. Artinya bahwa "Langit dan bumi ini tidak hancur karena Tuhan itu tidak banyak". Itu dari segi lughowinya. Dari segi mantik, ini disebut Qiyas Istisna'i yang muttashil yang menafikan tāli sehingga melahirkan penafian muqoddam dalam natijah: "Jika ada banyak Tuhan selain Allah maka langit dan bumi akan hancur. Akan tetapi langit dan bumi tidak hancur, kesimpulannya Tuhan itu tidak banyak, tetapi hanya Allah semata.". Dalil qiyasnya di Sullam Munawroq:

ورفع تال رفع أول ولا # يلزم في عسكهما لما انجلى

    Begitu terus latih baca kitab sehari-hari dengan metode itu, meskipun bekal pengetahuan kitab kita baru sebatas kitab-kitab dasar seperti contoh di atas, tetapi dengan latihan secara konsisten dengan metode ini, malakah keilmuan kita semakin cepat tumbuh dan buah dari ngaji kitab-kitab sebelumnya terasa lezatnya.

فافهمْ مُنِحتَ لذّة الأفهام

    Karena ilmu itu ibarat gedung tinggi, tidak akan pernah sampai kepada puncaknya kecuali harus melalui lantai-lantai gedung ilmu tersebut.


    Saya tutup dengan 2 bait tentang urutan belajar yang terdapat dalam kitab Hidayatul Adzkiya:

طالع مرارا متنه قبل الشروح # فإنه أولى وأحسن موئلا

ولفهمُ سطر من متون أحسن # من عشر أسطر من شروح فاقبلا

    "Selalu ulangi matan-matan kecil, berkali-kali, terus menerus, karena itu lebih utama dan lebih cepat menumbuhkan malakah.

    Mengulang-ulang satu baris matan sampai kokoh lebih utama daripada langsung membaca 10 baris syarah (tanpa pengulangan sampai kokoh)."



Kairo, 7 Juni 2023

M. Hariz Farezi Fadza

Comments

Popular Posts