Mutasyabihat Membuat Al-Quran Menjadi Rancu?
"Mutasyabihat Membuat Al-Quran Menjadi Rancu?"
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Dalam studi Tafsir & Ilmu Al-Quran, ada satu materi yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu "Muhkam & Mutasyabih".
Singkatnya, Muhkam itu adalah ayat-ayat Al-Quran yang jelas maknanya tanpa memerlukan takwil. Sedangkan Mutasyabih itu sebaliknya, sehingga membutuhkan takwil atau diserahkan maknanya kepada Allah swt.
Contoh ayat-ayat mutasyabihat:
{يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ}
"Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka." [QS. Al-Fath: 10].
}ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ}
"Allah bersemayam di atas Arsy." [QS. Thaha: 5].
Dan yang semisalnya. Dimana ayat-ayat tersebut tidak bisa dimaknai secara hakikatnya, karena bertentangan dengan sifat Allah yang berbeda dari makhluk-Nya. Sehingga para ulama memiliki dua metode dalam memaknai ayat-ayat tersebut:
1. Tafwidh (Mengimani ayat tersebut dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt.)
2. Takwil (Mengalihkan makna hakiki kepada makna majazi karena adanya indikator yang menghalang pemaknaannya secara hakiki).
Secara tafwidh 2 ayat di atas kita imani dan serahkan maknanya kepada Allah swt. tanpa memberikan penjelasan akan maknanya. Sedangkan takwil 2 ayat tersebut, yang masyhur di kalangan ulama memaknai kata يد (tangan) itu sebagai kekuasaan-Nya, dan makna استوى (bersemayam) adalah menguasai dan memiliki.
Imam Fakhruddin ar-Razi pernah berkata, bahwa ada seorang atheis yang mencela Al-Quran sebab mengandung ayat-ayat mutasyabihat yang seringkali menimbulkan perpecahan dan perbedaan antar mazhab dalam Islam.
Jabariyah misalnya yang berpegang pada ayat:
{وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ}
"Allah yang menciptakanmu dan apa-apa yang kamu perbuat." [QS. As-Shaffat: 96].
Qadariyah dengan ayat:
{إِنَّ ٱللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ}
"Sungguh Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut merubah keadaan mereka sendiri." [QS. Ar-Ra'd: 11].
Muktazilah yang mengingkari bahwa Allah dapat di lihat di akhirat dengan ayat:
{لَا تُدْرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ}
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan." [QS. Al-An'am: 103].
Mujassimah yang menyerupakan Allah dengan makhluk berdalil dengan ayat:
{يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ}
{وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ}
"Tangan Allah di atas tangan mereka." [QS. Al-Fath: 10].
"Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." [QS. Ar-Rahman: 27].
Dengan menetapkan makna hakikinya.
Begitu seterusnya setiap mazhab menetapkan ayat-ayat yang mendukung doktrin mazhabnya sebagai ayat-ayat muhkam, dan yang sebaliknya ayat-ayat mutasyabih. Bagaimana mungkin Al-Quran yang Tuhan sifati sebagai pedoman kembalinya umat kepadanya dipahami demikian?!
Ulama menjawab bahwa hikmah adanya ayat-ayat mutasyabihat ini ialah sebagai berikut:
• Melazimkan adanya usaha yang keras untuk mencapai maknanya. Dan usaha yang keras berbanding lurus dengan pahala yang besar.
• Andaikan semua isi ayat Al-Quran itu bersifat muhkamat, maka akan menghasilkan satu mazhab saja yang dianggap benar. Sehingga otomatis akan menyalahkan mazhab lain yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan mazhab pertama tersebut, akhirnya semakin menyempitlah makna luasnya Islam sebagai agama yang universal.
• Dengan adanya ayat yang bersifat mutasyabihat, maka akan memunculkan ilmu-ilmu baru yang digunakan sebagai perangkat atau alat untuk memahami ayat-ayat tersebut. Seperti: Ilmu Nahwu, Ma'ani, Bayan, Ushul Fikih, dan lain sebagainya. Sehingga secara tidak langsung memperkaya khazanah keilmuan Islam dan peradabannya.
• Menampakkan perbedaan derajat manusia dalam memahami luasnya makna Al-Quran. Sehingga muncullah kategori ayat-ayat yang bisa dipahami semua orang, ayat-ayat yang hanya dipahami para ulama, ayat-ayat yang dipahami melalui perantara bahasa arab, dan ayat-ayat yang hanya diketahui oleh Allah swt.
• Sebagai bentuk ujian, apakah umat manusia mengimani perkara-perkara gaib yang diceritakan dalam Al-Quran secara yakin atau justru menolak kebenaran akan hal gaib tersebut.
• Untuk menunjukkan bahwa manusia itu sangat lemah dan hanya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit. Serta menjadi bukti akan kebesaran dan keluasan ilmu Allah.
• Dan yang paling penting sebagai bentuk penetapan akan mukjizat Al-Quran, dengan ketinggian sastra dan balaghah yang dimiliki Al-Quran.
{هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ ۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ}
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal." [QS. Ali 'Imran: 7].
Kairo, 23 Mei 2023
M. Hariz Farezi Fadza
Referensi:
• Al-Itqan fi Ulum al-Quran (Diktat Jurusan Tafsir tingkat 4) - Imam as-Suyuthi.
• Manahij al-Mufassirin (Diktat Jurusan Tafsir tingkat 4) - Prof. Dr. as-Sayyid Faruq Muhammad Abdurrahman.

%20(4).jpeg)



Comments
Post a Comment