Kisah Taubat Fudhoil bin Iyadh
" Kisah Taubat Fudhoil bin Iyadh"
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Fudhoil bin Iyadh (w. 187 H), seorang kibar tabi'it tabi'n yg cukup terkenal dengan kealiman, kezuhudan, dan kewara'annya. Bahkan Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah-nya menempatkan beliau di urutan ke-3 diantara para masyayikh thariqah yang patut untuk diteladani.
Dikisahkan, Fudhoil bin Iyadh dulu seorang pembegal kelas kakap, menjalankan aksi mencegat kafilah yang melintasi Abiyurd - Sarkhas (Daerah Khurasan). Pada masa mudanya, ia jatuh hati kepada seorang gadis. Ketika hendak berkunjung ke rumah sang gadis, dia mendengar suara bacaan Al Quran, tepatnya pada ayat:
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ}
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah." (QS. Al-Hadid: 16)
Seketika mendengar ayat itu, hatinya bergetar seraya berkata: "Ya Rabb, sudah tiba saatnya." Mulai saat itu Fudhoil bertaubat.
Dalam perjalanan pulang di malam hari, dia menjumpai sebuah kafilah yang sedang berbincang²: "Apakah kita akan melanjutkan perjalanan?", sebagian mengatakan: "Kita istirahat dulu, menunggu pagi. Takutnya dibegal oleh Fudhoil."
Mendengar itu, Fudhoil terpukul. Lalu memproklamirkan taubatnya kepada khalayak, sekaligus menjamin keamanan untuk mereka. Semua orang bahagia dengan berita tersebut.
Fudhoil kemudian menetap di Mekkah, menghabiskan banyak waktunya di Baitullah hingga wafat.
Fudhoil bin Iyadh berubah menjadi sebaik-baik manusia, dan dunia Islam menjadi saksi bahwa dia termasuk dalam kalangan orang-orang sholeh. Dan dia tau, bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya dan menerima taubat orang-orang yang bertaubat.
Namun, pada suatu masa ketika dia menunaikan haji. Pada hari Arafah, dia berada diantara orang-orang yang sedang khusyuk berdoa dan menangis merintih. Sedangkan, dia hanya duduk termenung sambil menongkat dagu sepanjang hari Arafah. Ketika semua orang telah bergegas, ia pun berdiri dan berkata: "Betapa malunya aku pada-Mu Ya Allah, sekalipun Engkau telah mengampuni dosaku. Dimanakah aku pada pandangan-Mu, betapa jauhnya aku pada usia mudaku dari mengenal-Mu.". Beliau pun menangis merintih setiap kali mengingat hal tersebut. Dan dikenal ulama sebagai orang yang paling banyak menangis pada masanya.
📕 Kitab "ar-Risalah al-Qusyairiyah"
📌 Petikan Kisah yang Diceritakan Syekh Ramadhan al-Buthy dalam suatu kajiannya.



Comments
Post a Comment