“Seandainya Nabi Adam as. Tidak Makan Buah Khuldi, Niscaya Manusia Bakal Tetap Tinggal Di Surga” Betulkah?
“Seandainya Nabi Adam as. Tidak Makan Buah Khuldi, Niscaya Manusia Bakal Tetap Tinggal Di Surga” Betulkah?
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Banyak
orang yang berasumsi demikian, bahkan sampai mencap gara-gara dosa “Nabi Adam
as.” memakan buah khuldi, kita –umat manusia- tidak bisa menetap di surga. Sungguh
betapa buruk asumsi tersebut, terlebih dalam hal menodai kehormatan Nabi Adam
as. sebagai seorang nabi hanya karena kesalahan yang tidak disengaja –bukan dosa-,
siapa kita dibanding beliau hingga dengan mudahnya mengatakan yang demikian.
Baiknya, coba kita kembali ke waktu dimana pertama kalinya manusia itu diciptakan
(Episode Pertama Manusia). Firman Allah pada penggalan ayat ke-30 Surah
Al-Baqarah (Silahkan dibuka dan dibaca).
Ayat tersebut memaparkan bahwa
Allah menyampaikan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk yang
bertugas menjadi khalifah di bumi, sekali lagi khalifah di bumi. Yakni
mengelola bumi ini sesuai dengan “konsep” yang Dia kehendaki. Allah menciptakan
makhluk tersebut dari tanah dan meniupkan ruh kepadanya sehingga terciptalah
satu sosok yang sangat unik, yaitu “Manusia” yang kemudian diperkenalkan dengan
nama “Adam”. Karena keistimewaan makhluk ini, sampai-sampai para malaikat
diperintahkan untuk sujud menghormatinya. Akan tetapi, diantara
makhluk-makhluk-Nya yang dikenal taat kepada Tuhan-Nya, Iblis pun diperintahkan
hal yang sama, akan tetapi ia enggan untuk sujud karena merasa lebih mulia dari
Adam, sebab ia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Sehingga itulah
yang menjadikannya diusir dari surga serta dilaknat selama-lamanya.
Lebih lanjut Al Quran
menguraikan bahwa Adam bersama istrinya “Hawa” ditempatkan di surga, serta
diizinkan menikmati segala yang ada didalamnya, kecuali satu pohon yang tumbuh
disana suatu buah yang terlarang untuk didekati apalagi dimakan [Baca: Al-A’raf:
19]. Mereka juga diperingatkan bahwa Iblis adalah musuh mereka dan jangan
sampai mereka terpedaya olehnya sehingga harus keluar dari surga.
Kehidupan mereka berdua mulai
terusik dengan hadirnya Iblis yang menggoda agar mencicipi buah dari pohon
terlarang itu, bahkan sampai bersumpah bahwa Allah tidaklah melarang mendekati
pohon itu kecuali karena Allah enggan menjadikan mereka kekal selamanya dan
menjadi malaikat yang memiliki kekuasaan, begitu gumam Iblis dengan liciknya [Baca:
Al-A’raf: 20-21]. Hingga pada akhirnya, mereka pun tergoda, tak hanya mendekati
pohon tersebut, tetapi bahkan memetik dan mencicipi buahnya. Akibatnya mereka
menyesali perbuatan tersebut dan memohon ampun atas kesalahan mereka. Allah
mengampuni mereka, akan tetapi mereka harus menerima konsekuensi berupa diturunkan
ke bumi [Baca: Al-A’raf: 22-25].
Nah, coba sejenak kita renungi dan petik beberapa butir hakikat dari kisah tersebut. Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. dalam bukunya “Islam Yang Saya Anut” memaparkan:
Semula sebelum Adam diciptakan, Allah telah menyampaikan rencana-Nya kepada malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk (manusia) untuk menjadi khalifah di bumi. Karena itu, baik dia mencicipi buah pohon terlarang itu maupun tidak, pada akhirnya dia pasti akan diperintahkan untuk meninggalkan surga dan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas kekhalifahan. Perlu digarisbawahi bahwa Al Quran ketika memerintahkan Adam dan pasangannya turun ke bumi, tak menggunakan kata “diusir dari surga”. Bukankah sejak sebelum tercipta, Allah telah menegaskan bahwa makhluk yang akan Dia ciptakan itu akan ditugaskan di bumi?
Anda bisa bertanya: "Kalau memang sejak semula Allah menghendaki agar makhluk ciptaan-Nya itu bertugas di bumi maka mengapa sebelum turun bertugas ia harus transit di surga? Salah satu jawabannya adalah keberadaan mereka di surga untuk memberi mereka pelajaran tentang tugas yang akan mereka emban di bumi dan tantangan yang akan mereka hadapi serta target minimal yang hendaknya mereka perjuangkan untuk mereka capai. Yakni di bumi mereka hendaknya berjuang untuk menciptakan bayang-bayang surga sebagaimana yang mereka alami dengan ketersediaan sandang, pangan dan papan serta rasa aman dan damai. Keberadaan mereka di bumi setelah pengalaman surgawi itu mendorong mereka untuk rindu dan berjuang kembali ke sana.
Selanjutnya godaan Iblis dan dampak negatif yang mereka rasakan akibat menyambut godaan itu memberi mereka pengalaman sekaligus pelajaran bahwa Iblis adalah musuh. Mengikuti godaannya akan berdampak sangat buruk. Dengan demikian kewaspadaan terhadap rayuan Iblis harus selalu dipertahankan ketika berada di muka bumi ini.
Di sana ingatannya kembali kepada Tuhan dan saat-saat indah yang dia alami ketika berada di surga. Dia rindu ke masa itu dan terdorong oleh panggilan akal dan jiwanya. Semakin rindu ia semakin kuat pula dorongannya untuk mengikuti petunjuk Tuhan atau dengan kata lain untuk "beragama". Kerinduan itu tidak akan reda sampai bertemu dengan-Nya.
Demikian uraian Prof. Quraish Shihab yang sekiranya itu cukup jelas dalam menjelaskan judul utama tulisan ini. Sebagai penguatan, penulis tambahkan salah satu hadits yang dinukil dari diktat kuliah “Tauhid”:
Dari Abu Hurairah ra. mengatakan Nabi Muhammad saw. bersabda: "Nabi Musa pernah mendebat Nabi Adam”.
Nabi Musa berkata: "Wahai Adam, dirimulah yang telah menyengsarakan manusia dan membuat mereka keluar dari surga."
Nabi Adam menjawab: "Wahai Musa, sebagai orang yang telah Allah sucikan dengan kalam-Nya, apakah engkau menyalahkan apa yang telah Allah takdirkan atas diriku sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi ini."
Rasulullah berkata: "Nabi Adam dapat menyalahkan Nabi Musa dalam perdebatan itu."
Kairo, 29 Desember
2022
M. Hariz Farezi
Fadza




Comments
Post a Comment