Eropa Pernah Meneladani Islam dan Bangga Berbahasa Arab

"Eropa Pernah Meneladani Islam dan Bangga Berbahasa Arab"

Oleh M. Hariz Farezi Fadza


    Kalau kita mundur ke belakang menatap sejarah, tepatnya di abad pertengahan. Disana kita akan menyaksikan betapa besarnya peradaban Arab dan Islam yang menjadi pusat peradaban dunia saat itu. Tak hanya terbatas di negeri-negeri Islam dan daerah kekuasaannya. Pengaruh peradaban tersebut sampai menebus daratan negeri-negeri di Eropa seperti Andalusia dan Sicilia (daerah di Italia).

    Bahkan, saking kuatnya peradaban di 2 negera besar Eropa tersebut, sampai-sampai para penduduknya bahkan para Rajanya merasa bangga berbicara dengan bahasa Arab dan mengikuti budaya Islam; seperti memakai pakaian khas muslim, serta tak jarang mengangkat beberapa ilmuwan muslim untuk memimpin lembaga-lembaga pendidikan disana. Dan tak sedikit diantara karya-karya umat Islam berbahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Latin. Dan tentu, karena mereka sangat pandai dalam bahasa Arab.

    Pedro (Seorang Raja di Aragon, Spanyol), dikenal tidak mampu membaca dengan baik kecuali dengan bahasa Arab. Kemudian ada seorang pendeta mengumpulkan beberapa kosakata bahasa Portugal yang berakar dari bahasa Arab, yang kemudian terkumpul 160 halaman. Ada juga yang mencapai 441 halaman. Bahkan seorang orientalis bernama Renhart Duzy pernah mengatakan: "Kerajaan Sicilia itu benar-benar Arab dengan segala budaya dan aktivitas kehidupannya."


    Dan banyak lagi bukti-bukti kongkrit kemajuan Islam dan Bahasa Arab sebagai pusat peradaban dunia kala itu di sebut dalam buku-buku sejarah peradaban Islam. Hampir semua penduduk dunia merasa bangga dengan mengikuti trend Islam dan berbicara Bahasa Arab. Karena keduanya merupakan simbol kemajuan dan kesejahteraan.

    Berbeda lagi ketika kita menarik pandangan kembali ke masa sekarang. Kita melihat realita mulai terbalik. Eropa yang dulu kelam, mundur, dan mengekor kepada Islam dan Arab berubah menjadi Eropa yang kuat dan mampu menciptakan peradaban kemajuan di masa ini. Sedangkan umat Islam -yang buta akan sejarahnya- merasa bangga membudakkan diri dengan budaya Barat, lupa bahwa pembuka mata Eropa dari tidurnya ialah Islam dan Arab.

    Mirisnya lagi, umat Islam -terutama anak mudanya- sedikit demi sedikit sudah tidak lagi merasa bangga dengan keislamannya (dengan segala kulturnya), tidak lagi merasa butuh belajar Bahasa Arab. Padahal ia adalah bahasa langit yang mengangkat derajat umat manusia dan bangsa-bangsa terdahulu termasuk Eropa.

    Dan yang paling mengherankannnya lagi. Para pelajar yang diberi kesempatan belajar di negera Arab, masih banyak yang kemampuan bahasa Arabnya minim dan ditambah kurangnya minat serta keinginan kuat untuk meningkatkannya, apalagi berbicara menggunakannya. Sungguh menyedihkan, mereka yang belajar jauh-jauh ke negeri Arab, tidak merasa bangga dan terdorong sedikitpun untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arabnya (minimal dalam percakapan sehari-hari) sebab terlalu seringnya berinteraksi dengan teman sesama daerahnya. Padahal, Eropa saja pernah bangga dan merasa mendapat kemajuan karena menguasai bahasa Arab dan mengikuti peradaban Islam. Padahal, tanggung jawab umat dan ulama terdahulu kepada mereka (pelajar-pelajar asing di timur tengah) jauh sangat besar dan berat jikalau mereka menyadari dan kembali membuka mata akan itu.

    Mau sampai kapan menutup mata seperti ini? Mau sampai kapan bermalas-malasan seperti ini? Kalau bukan kita yang masuk ke barisan orang-orang yang akan membangkitkan kembali peradaban umat yang telah lama terkubur realita, siapa lagi?

Ya, mulai dari kita, kita yang harus memulainya!

Kairo, 5 Juli 2022
M. Hariz Farezi Fadza

Comments

Popular Posts