2 Sayap Seorang Azhari
"2 Sayap Seorang Azhari"
Oleh: M. Hariz Farezi Fadza
Muqorror di Azhar itu rata-rata mustawanya lebih tinggi dari level keilmuan sebagian besar mahasiswa disini. Ada yang mutawassith atau bahkan yg muntahi, sedangkan level keilmuan mahasiswanya masih mubtadi. Sehingga, tak jarang dari mereka yang ketika ujian hanya sebatas menghafal huruf dan kata-kata yang ada di muqorror tanpa pemahaman yang cukup terhadap isi muqorror itu.
Lalu bagaimana solusinya terkait hal tersebut?
Pertama, kita mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan iklim kuliah sampai menyelesaikan studi formal sebisa mungkin tanpa rosib, mempelajari manhaj para duktur yg notabene kontemporer dalam memahami turats sebagai referensi utama muqorror kuliah meskipun terbilang mustawanya sedikit lebih tinggi, tapi dijalani saja dulu sebagaimana mestinya.
Kedua, jika kita memang tertinggal sebab level keilmuan yang rendah, maka hendaklah kita susul sekuat mungkin dengan memulai dari mubtadi. Kalau tidak, kita hanya akan melelahkan otak, menghabiskan waktu, merancukan masail, bahkan meruntuhkan bangunan keilmuan kita yang masih belum kokoh.
Kemudian, bagaimana cara mengejar ketertinggalan itu?
Alhamdulillah, kita kenal di Al Azhar ada Jami' (masjid) dan Jami'atan (kampus). Maka di jami' -termasuk madhyafah- kita manfaatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk membangun pondasi keilmuan kita dengan kitab-kitab turats yang diajarkan disana, dari level mubtadi-mutawasstih-muntahi. Setiap tholib mesti tahu dimana porsinya dalam belajar.
Jika masih mubtadi dalam nahwu, jangan sekali-kali langsung ngaji Alfiyah. Mulai dulu dari Jurumiyyah beserta syarah-syarahnya, kemudian naik ke Qatrunnada, Syudzur Adz Dzahab, baru kemudian Alfiyah ibnu Malik beserta syarahnya.
Dalam ilmu tauhid, jangan langsung ngaji Syarah Mawaqif atau Qoul Sadid, oleng pula nanti. Mulailah dari ngaji Khoridah Bahiyyah dulu, kemudian Jauharatut Tauhid, atau lewat silsilah kitab Sanusiyah, barulah naik ke kitab-kkitab gede diatasnya.
Begitu seterusnya di setiap fan ilmu yang ada.
Dan tak lupa juga, hal yg penting untuk menunjang semua itu, menghafal Al Quran, mendalami bahasa arab, dan menghafal matan-matan di setiap fan ilmu.
Maka, seorang Azhari itu ialah yg bisa terbang dengan 2 sayap; sayap kuliah dan talaqqi. Keduanya mesti beriringan dan bersinergi. Gelar didapat, ilmu pun tak kalah jauh lebih hebat.
Semoga Allah kuatkan langkah baik kita untuk meraih cita-cita dan memenuhi amanah yg tertumpu di pundak kita. Bittaufiq wat tafawwuq.
Kairo, 6 Juni 2022



Comments
Post a Comment